Konkurs Nasional Burung Perkutut: Meriahkan HUT ke-1096 Kabupaten Pasuruan dengan Warisan Budaya dan Ekonomi Kreatif
Berita Pasuruan– Suara khas “kurung-kuk, kurung-kuk” yang merdu dan menenteramkan kembali memenuhi angkasa Kota Pasuruan. Bunyi itu bukan hanya berasal dari pepohonan atau sangkar-sangkar di teras rumah, tetapi berkumpul dalam satu arena bergengsi: Konkurs Nasional Seni Suara Alam Burung Perkutut. Ajang yang digelar pada Sabtu-Minggu, 13-14 September 2025, ini menjadi salah satu puncak kemeriahan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan yang ke-1096.
Bertempat di Lapangan Detasemen AU Raci, acara hasil kolaborasi apik antara Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan dan Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) ini bukan sekadar lomba biasa. Ini adalah sebuah festival budaya yang berhasil menyedot perhatian nasional, dibuktikan dengan partisipasi sekitar 700 peserta dari berbagai penjuru Nusantara. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, Kalimantan, hingga Bali, mereka berbondong-bondong datang dengan membawa burung kesayangannya untuk diperlombakan.
Bukti Nyata, Gairah yang Tak Pernah Padam
Tingginya antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa di tengah gempuran modernitas, burung perkutut (Geopelia striata) masih menempati posisi istimewa di hati para pecintanya. Burung yang dalam budaya Jawa dipercaya membawa keberkahan dan ketenteraman ini tidak kehilangan pesonanya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Agus Hari Wibawa, menyoroti dedikasi tinggi dari para peserta. “Ini membuktikan bahwa perkutut bukan sekadar hobi, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan passion. Bahkan banyak peserta yang sengaja datang lebih awal, menginap sampai tiga hari sebelumnya. Tujuannya agar burungnya bisa beradaptasi dengan lokasi, cuaca, dan suasana sekitar. Hal ini penting agar burung tidak stres dan dapat berkicau dengan maksimal,” ujarnya dengan penuh semangat.

Baca Juga: Bagi Lulusan Teknik dan Teknologi Pangan, Indofood Buka Lowongan Production Operator di Pasuruan
Untuk memastikan ajang berjalan fair dan berkualitas tinggi, panitia tidak main-main. Sebanyak 50 juri nasional didatangkan langsung dari P3SI Pusat. Agus menegaskan, “Seluruh juri berasal dari pusat sehingga objektivitas dan kualitas penilaian benar-benar terjamin. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk menyelenggarakan konkurs yang berintegritas dan berkelas nasional.”
Dua Hari Bergempita dengan Berbagai Kelas
Konkurs nasional ini diselenggarakan dengan sistem yang sangat teratur. Hari pertama, Sabtu (13/9/2025), diisi dengan pertandingan untuk kelas Piyek Senior, Piyek Junior, dan Piyek Hanging. Masing-masing kelas dibagi lagi menjadi empat blok, menunjukkan kompleksitas dan skala besar ajang ini. Suara-suara kristal dari burung-burung muda bersaing menunjukkan kualitas terbaiknya.
Hari kedua, Minggu (14/9/2025), menjadi puncak acara dengan pertandingan kelas Dewasa Senior dan Dewasa Junior. Di sinilah para jawara biasanya muncul. Burung-burung dengan mental terlatih dan kicauan yang dalam, powerfull, dan memiliki “roh” saling adu keunggulan, memukau para juri dan penonton yang hadir.
Lebih dari Sekadar Perlombaan: Terapi, Harmoni, dan Penggerak Ekonomi
Sekretaris Daerah Kabupaten Pasuruan, Yudha Triwidya Sasongko, dalam sambutannya menekankan bahwa konkurs ini memiliki nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar ajang hiburan.
“Kicauan burung perkutut memiliki keistimewaan tersendiri,” jelas Yudha. “Bagi para penggemarnya, suaranya yang menenangkan bisa berfungsi sebagai terapi penghilang stres, melepas penat setelah seminggu beraktivitas. Tidak hanya itu, hobi memelihara perkutut juga sering kali mempererat keharmonisan dan komunikasi dalam keluarga, menjadi aktivitas yang dilakukan bersama dari anak hingga orang tua.”
Dan yang tak kalah pentingnya, menurut Yudha, adalah dampak ekonomi yang nyata. “Kegiatan ini telah menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar secara signifikan,” tegasnya.
Dampak Ekonomi yang Luas dan Berkelanjutan
Kehadiran ratusan peserta dari luar kota beserta keluarga dan pendukungnya telah menjadi berkah bagi pelaku usaha lokal. Hotel dan penginapan di sekitar lokasi mengalami peningkatan okupansi. Pedagang kuliner, dari warung kaki lima hingga restoran, merasakan lonjakan pembeli. Para pedagang pakan burung, sangkar, aksesoris, hingga pelaku UMKM yang menjual oleh-oleh khas Pasuruan juga ikut menikmati geliat ekonomi ini.
Ajang ini merupakan contoh brilian bagaimana sebuah event budaya dapat ditransformasikan menjadi pengungkit ekonomi kreatif yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Pelestarian Budaya di Usia yang Ke-1096
Pada usia yang hampir menjelang seabad lebih seperempatnya, Kabupaten Pasuruan menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya memajukan ekonomi, tetapi juga melestarikan warisan budaya leluhur. Konkurs perkutut adalah salah satu warisan budaya tak benda yang sarat dengan nilai filosofis Jawa.
Dengan semaraknya Konkurs Nasional ini, peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1096 berhasil dirayakan dengan cara yang unik dan bermakna. Ajang ini tidak hanya menyajikan hiburan yang berkualitas, tetapi juga membawa pesan penting tentang pelestarian budaya, kebersamaan, solidaritas antar komunitas, dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Konkurs Nasional Burung Perkutut telah menjadi bukti bahwa tradisi yang baik tetap bisa hidup dan berkembang, beradaptasi dengan zaman, sekaligus menjadi penopang bagi masyarakatnya. Kabupaten Pasuruan, dengan usianya yang lanjut, justru menunjukkan semangatnya yang tetap muda melalui geliat budaya dan ekonominya.




