Sopir Bus Nekat Tolak Uang “Paksa”, Dibacok Preman di Pasuruan – Pelaku Masih Buron!
Pasuruan- Sebuah aksi premanisme kembali memakan korban di Kota Pasuruan. Kali ini, seorang sopir bus menjadi sasaran pembacokan setelah menolak memberikan uang kepada preman yang diduga kerap beraksi di kawasan Perempatan Kebonagung. Kejadian ini semakin menegaskan betapa meresahkannya aksi pemalakan yang masih terjadi di wilayah tersebut.

Baca Juga : Pecah Ban, Pikap Muat Ikan Oleng dan Terbalik di Jalan Tol Gempol Pasuruan
Sopir Berani Menolak, Preman Kalap Bacok
Menurut keterangan Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota, Iptu Choirul Mustofa, korban, ES (41), warga Lumajang, sedang mengambil penumpang di Perempatan Kebonagung ketika salah seorang preman mendatanginya dan meminta uang. Tanpa ragu, ES menolak permintaan tersebut.
Namun, penolakan itu justru memicu kemarahan pelaku. “Awas besok ya!” ancam si preman sebelum akhirnya benar-benar melaksanakan ancamannya.
Esok harinya, saat ES beristirahat sambil minum teh di lokasi yang sama, tiba-tiba pelaku menghampiri dan menyayat pipi kirinya dengan senjata tajam. Korban langsung dilarikan untuk mendapatkan perawatan medis akibat luka di wajahnya, sementara pelaku kabur dan hingga kini masih diburu polisi.
Polisi Buru Pelaku, Target 1×24 Jam
Iptu Choirul Mustofa menegaskan bahwa jajarannya telah mengerahkan Tim Resmob untuk mengejar pelaku. “Kami targetkan dalam 1×24 jam pelaku bisa kami amankan. Aksi premanisme seperti ini sudah sering terjadi dan sangat meresahkan para sopir serta kondektur bus,” tegasnya.
Polisi juga mengimbau masyarakat, terutama para sopir angkutan umum, untuk segera melaporkan setiap tindakan pemerasan atau ancaman yang mereka alami. “Jangan takut untuk melapor. Kami akan bertindak tegas terhadap pelaku premanisme,” tambah Choirul.
Premanisme di Terminal & Persimpangan: Masalah Klasik yang Tak Kunjung Usai
Kasus ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Pasuruan. Sejumlah sopir angkutan umum mengaku kerap menjadi sasaran pemerasan oleh oknum preman, terutama di titik-titik ramai seperti terminal atau persimpangan jalan. Modusnya pun beragam, mulai dari meminta uang “jaga lokasi” hingga ancaman kekerasan jika menolak.
Beberapa sopir yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah “pasrah” karena merasa laporan mereka kerap tidak ditindaklanjuti secara serius. Namun, dengan semakin gencarnya penegakan hukum belakangan ini, diharapkan aksi premanisme bisa ditekan.
Korban dalam Kondisi Stabil, Masyarakat Diminta Waspada
Sementara itu, kondisi ES dilaporkan stabil meski masih menjalani perawatan. Keluarganya berharap pelaku segera ditangkap agar kejadian serupa tidak terulang.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera menghubungi polisi jika melihat aktivitas mencurigakan atau pemerasan di sekitar mereka. “Kami butuh dukungan warga untuk memberantas premanisme,” pungkas Choirul.




